Sabtu, 04 Juli 2015

Berbaliklah, Aku Ada Disini Untukmu


Ada kisah yang ingin ku bagi dengan kalian semua. Berharap tak ada lagi cerita menyedihkan seperti ini yang harus ditanggung orang lain karna ketidakberdayaan. Aku seorang teman biasa tapi memiliki teman-teman yang istimewa. Dia salah satunya. Gadis manis yang baik, soleha, dan pintar. Meski dia cukup pendiam di kelas, aku tahu itu tak mengurangi kebaikannya. Dia temanku, salah satu teman terbaikku. Cukup lama kami bangun istana persahabatan dengan pondasi ketulusan. Bersama kami jalani waktu panjang ini dalam canda tawa. Seolah-seolah kebahagiaan itu akan abadi bersama kami. Tapi waktu memang berkuasa, ada titik penuh luka yang harus kami lewati untuk sampai pada kesejatian kebahagiaan.
Berawal dari cerita-ceritamu yang berbunga tentang cinta. Pangeran berkuda putihmu yang datang menyuguhkan madu janji setia untuk bersamamu dalam ikatan suci. Kamu bercerita seolah bintang di langit itu turun ke bumi untuk mengisi sinar di matamu. Aku bahkan sempat lihat kerlipnya ketika kamu bercerita. Entah kamu ceritakan semua atau tidak, entah itu masuk akal atau tidak, aku hanya tersenyum dan bahagia melihatmu bahagia. Semua mimpi-mimpi kamu coba rajut, aku mendengarkan, bahkan kita masih sempat bercanda di sela keseriusan ini. Sampai kamu katakan bahwa kamu akan segera hidup bersamanya, pangeran berkuda putihmu. Aku tak bertanya mengapa tentang semua pilihanmu karna semua rencana-rencanamu sungguh tampak sempurna. Jika dia pilihanmu, aku percaya padamu. Hal bodoh yang akan aku sesali seumur hidupku. Tapi aku berjanji pintu istana kita akan selalu terbuka untukmu. Tibalah hari itu dimana aku menjadi saksi terucapnya janji setia yang akan membawamu pada kebahagiaan yang diridhoiNya. Aku tersenyum dan memelukmu.
Waktu berlalu begitu cepat. Awalnya kita masih bersama. Tapi entah sejak kapan aku melihat jarak di antara kita. Jarak yang samar-samar ku lihat semakin hari semakin membuat ku sulit mendekatimu. Aku tak tahu apa alasannya tapi itu membuatku merasa tersisih. Aku berpikir kau mungkin sedang menikmati hidupmu dan aku tak ingin menjadi pengganggu. Aku biarkan waktu berjalan. Dan kau bersamanya tentu tanpa aku. Tak ku pedulikan pertanyaan dalam kesendirian. Aku percaya padamu dalam cinta ini.
Liburan ternyata membuat kita berpisah cukup lama. Aku pulang ke rumah dalam keyakinan kau pasti sedang berbahagia. Itu membuat hatiku sedikit lega. Sampai suatu hari kabar itu datang, membunuhku.
Kabar itu datang tiba-tiba tanpa memberi tanda-tanda. Dia seperti gelombang tsunami masuk melewati gendang telingaku. Otakku perlahan menerjemahkan apa maksud semua ini. Hatiku mempertanyakan kebenarannya. Benarkah semua cerita ini? Pertanyaan pertama yang sanggup terlontar dari mulutku. Aku seperti kerasukan setan mencari kebenarannya darimu. Aku telpon, aku sms, bertanya pada semua orang, mencari-cari alamatmu. Apa saja yang membuat kabar ini menjadi bohong pastilah akan melegakan. Entah kenapa aku berharap setiap orang di dunia ini berbohong agar aku tak perlu percaya pada kabar ini. Pangeran yang kau kira berkuda putih ternyata seeokor seriga berbulu domba. Cinta yang kau kira tulus tapi ternyata semua palsu penuh tipu daya. Janji atas nama Tuhan ternyata tak menjamin dia akan setia dalam kebenaran. Ya Tuhan, aku menyumpahi serigala berbulu dombamu dalam kemarahan. Sesak dadaku menahan amukan luka-luka ini. Aku sudah tak tahan, aku putuskan segera kembali ke istana kita. Tapi aku tak menemukanmu di dalamnya. Aku mencarimu ke setiap tempat yang mungkin kau datangi. Aku tak juga menemukanmu. Kamu seperti menghilang di telan bumi sahabat. Jejakmu pun tak dapatku lihat. Kamu kemana? Dalam kekalutan dan ketidakberdayaan aku coba tenangkan hati yang menahan gemuruh luka. Aku mencoba bersabar menunggu kabar darimu, kamu pasti segera kembali.
Waktu menjadi berjalan sangat lambat. Matahari seperti merangkak di atasku. Malam menjadi semakin dingin dan siang semakin lama membakar. Aku lelah dengan semua kekhawatiran tentangmu. Hanya padaNya berani ku adukan duka ini. Dalam sujud aku ucapkan doa untukmu. Setiap kali air mata jatuh, aku coba bersimpuh memohon ampun padaNya untuk semua khilaf dan kelalaian menjagamu sahabat. Aku menangis.
Dalam penantian, orang-rang mulai bertanya padaku tentangmu. Ada yang sekedar bertanya, ingin tahu, bersimpati, bergossip, berspekulasi. Ahh entahlah sahabat, aku tahu mereka hanya manusia biasa yang butuh berita. Aku hanya diam dan menjawab dengan tesenyum semoga kamu diberiNya kemudahan. Benar kiranya, saat kita jatuh kita dapat melihat siapa saja yang tulus selama ini. Aku bersyukur masih ada orang-orang yang tulus disekitarmu sahabat. Satu hal yang membuatku sedikit lega untukmu.
Banyak cara yang ku lakukan untuk menemukanmu tapi selalu berakhir sia-sia. Aku berharap kamu segera memberi kabar. Ditengah keputusasaanku sedikit cahaya mulai berbaik hati menerangi jalan buntu ini. Kamu membalas pesan dari ku. Entah bagaimana aku lukiskan rasa syukurku atas kebaikanNya membuka hatimu untuk memberi kabar padaku. Bergetar jariku ketika ingin membalasnya. Luapan kebahagiaan itu rasanya akan membanjiri hatiku. Tapi aku tahan agar tak merusak awal yang baik ini. Aku membalas seolah-olah tak terjadi apa-apa. Agar kamu tahu aku masih sahabatmu yang dulu. Percakapan kita mulai mengalir. Tak ada yang istimewa, aku tak ingin membahas cerita menyedihkan itu. Aku hanya ingin tahu kabarmu. Jika kamu baik-baik saja, itu sudah cukup untukku. Percakapan kita berakhir dengan kamu baik-baik saja. Titik. Rasa penasaran memang menghantuiku, tapi aku tahu kamu butuh waktu untuk berterus terang. Aku akan bersabar sampai kamu siap untuk berbagi duka denganku seperti dulu. Kamu hanya perlu percaya, apapun yang akan kamu katakan, apapun yang akan ada di masa depan, aku masih akan disini menajdi sahabatmu. Meski takkan banyak yang dapat ku lakukan untukmu. Percayalah, seberat apapun itu, ini pundakku untukmu. Kamu bisa menggunakannya kapanpun kamu mau. Saat kamu siap untuk kembali, kita akan bangun kembali istana persahabatan kita denga cinta yang lebih kuat. Istana yang akan dihuni oleh aku dan kamu tanpa serigala berbulu domba. Karna aku akan pastikan kamu  dapatkan pengeran berkuda putihmu yang sebenarnya. Aku yakin, dia masih ada di luar sana mencari mu dengan jiwa ksatria. Sebelum dia datang, aku akan menjagamu dalam istana perdahabatan kita. Aku tak berjanji takkan lagi ada luka, tapi aku yakinkan kamu, kali ini aku akan menjagamu sebelum kamu terjatuh.  

By LK

0 komentar:

Posting Komentar

www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com