Ada
kisah yang ingin ku bagi dengan kalian semua. Berharap tak ada lagi cerita
menyedihkan seperti ini yang harus ditanggung orang lain karna
ketidakberdayaan. Aku seorang teman biasa tapi memiliki teman-teman yang istimewa.
Dia salah satunya. Gadis manis yang baik, soleha, dan pintar. Meski dia cukup
pendiam di kelas, aku tahu itu tak mengurangi kebaikannya. Dia temanku, salah
satu teman terbaikku. Cukup lama kami bangun istana persahabatan dengan pondasi
ketulusan. Bersama kami jalani waktu panjang ini dalam canda tawa.
Seolah-seolah kebahagiaan itu akan abadi bersama kami. Tapi waktu memang
berkuasa, ada titik penuh luka yang harus kami lewati untuk sampai pada
kesejatian kebahagiaan.
Berawal
dari cerita-ceritamu yang berbunga tentang cinta. Pangeran berkuda putihmu yang
datang menyuguhkan madu janji setia untuk bersamamu dalam ikatan suci. Kamu
bercerita seolah bintang di langit itu turun ke bumi untuk mengisi sinar di
matamu. Aku bahkan sempat lihat kerlipnya ketika kamu bercerita. Entah kamu
ceritakan semua atau tidak, entah itu masuk akal atau tidak, aku hanya
tersenyum dan bahagia melihatmu bahagia. Semua mimpi-mimpi kamu coba rajut, aku
mendengarkan, bahkan kita masih sempat bercanda di sela keseriusan ini. Sampai
kamu katakan bahwa kamu akan segera hidup bersamanya, pangeran berkuda putihmu.
Aku tak bertanya mengapa tentang semua pilihanmu karna semua rencana-rencanamu
sungguh tampak sempurna. Jika dia pilihanmu, aku percaya padamu. Hal bodoh yang
akan aku sesali seumur hidupku. Tapi aku berjanji pintu istana kita akan selalu
terbuka untukmu. Tibalah hari itu dimana aku menjadi saksi terucapnya janji
setia yang akan membawamu pada kebahagiaan yang diridhoiNya. Aku tersenyum dan
memelukmu.
Waktu
berlalu begitu cepat. Awalnya kita masih bersama. Tapi entah sejak kapan aku
melihat jarak di antara kita. Jarak yang samar-samar ku lihat semakin hari
semakin membuat ku sulit mendekatimu. Aku tak tahu apa alasannya tapi itu
membuatku merasa tersisih. Aku berpikir kau mungkin sedang menikmati hidupmu
dan aku tak ingin menjadi pengganggu. Aku biarkan waktu berjalan. Dan kau
bersamanya tentu tanpa aku. Tak ku pedulikan pertanyaan dalam kesendirian. Aku
percaya padamu dalam cinta ini.
Liburan
ternyata membuat kita berpisah cukup lama. Aku pulang ke rumah dalam keyakinan
kau pasti sedang berbahagia. Itu membuat hatiku sedikit lega. Sampai suatu hari
kabar itu datang, membunuhku.
Kabar
itu datang tiba-tiba tanpa memberi tanda-tanda. Dia seperti gelombang tsunami
masuk melewati gendang telingaku. Otakku perlahan menerjemahkan apa maksud
semua ini. Hatiku mempertanyakan kebenarannya. Benarkah semua cerita ini?
Pertanyaan pertama yang sanggup terlontar dari mulutku. Aku seperti kerasukan
setan mencari kebenarannya darimu. Aku telpon, aku sms, bertanya pada semua
orang, mencari-cari alamatmu. Apa saja yang membuat kabar ini menjadi bohong
pastilah akan melegakan. Entah kenapa aku berharap setiap orang di dunia ini
berbohong agar aku tak perlu percaya pada kabar ini. Pangeran yang kau kira
berkuda putih ternyata seeokor seriga berbulu domba. Cinta yang kau kira tulus
tapi ternyata semua palsu penuh tipu daya. Janji atas nama Tuhan ternyata tak
menjamin dia akan setia dalam kebenaran. Ya Tuhan, aku menyumpahi serigala
berbulu dombamu dalam kemarahan. Sesak dadaku menahan amukan luka-luka ini. Aku
sudah tak tahan, aku putuskan segera kembali ke istana kita. Tapi aku tak
menemukanmu di dalamnya. Aku mencarimu ke setiap tempat yang mungkin kau
datangi. Aku tak juga menemukanmu. Kamu seperti menghilang di telan bumi
sahabat. Jejakmu pun tak dapatku lihat. Kamu kemana? Dalam kekalutan dan
ketidakberdayaan aku coba tenangkan hati yang menahan gemuruh luka. Aku mencoba
bersabar menunggu kabar darimu, kamu pasti segera kembali.
Waktu
menjadi berjalan sangat lambat. Matahari seperti merangkak di atasku. Malam
menjadi semakin dingin dan siang semakin lama membakar. Aku lelah dengan semua
kekhawatiran tentangmu. Hanya padaNya berani ku adukan duka ini. Dalam sujud
aku ucapkan doa untukmu. Setiap kali air mata jatuh, aku coba bersimpuh memohon
ampun padaNya untuk semua khilaf dan kelalaian menjagamu sahabat. Aku menangis.
Dalam
penantian, orang-rang mulai bertanya padaku tentangmu. Ada yang sekedar
bertanya, ingin tahu, bersimpati, bergossip, berspekulasi. Ahh entahlah
sahabat, aku tahu mereka hanya manusia biasa yang butuh berita. Aku hanya diam
dan menjawab dengan tesenyum semoga kamu diberiNya kemudahan. Benar kiranya,
saat kita jatuh kita dapat melihat siapa saja yang tulus selama ini. Aku bersyukur
masih ada orang-orang yang tulus disekitarmu sahabat. Satu hal yang membuatku
sedikit lega untukmu.
Banyak
cara yang ku lakukan untuk menemukanmu tapi selalu berakhir sia-sia. Aku
berharap kamu segera memberi kabar. Ditengah keputusasaanku sedikit cahaya
mulai berbaik hati menerangi jalan buntu ini. Kamu membalas pesan dari ku.
Entah bagaimana aku lukiskan rasa syukurku atas kebaikanNya membuka hatimu
untuk memberi kabar padaku. Bergetar jariku ketika ingin membalasnya. Luapan
kebahagiaan itu rasanya akan membanjiri hatiku. Tapi aku tahan agar tak merusak
awal yang baik ini. Aku membalas seolah-olah tak terjadi apa-apa. Agar kamu
tahu aku masih sahabatmu yang dulu. Percakapan kita mulai mengalir. Tak ada
yang istimewa, aku tak ingin membahas cerita menyedihkan itu. Aku hanya ingin
tahu kabarmu. Jika kamu baik-baik saja, itu sudah cukup untukku. Percakapan
kita berakhir dengan kamu baik-baik saja. Titik. Rasa penasaran memang
menghantuiku, tapi aku tahu kamu butuh waktu untuk berterus terang. Aku akan
bersabar sampai kamu siap untuk berbagi duka denganku seperti dulu. Kamu hanya
perlu percaya, apapun yang akan kamu katakan, apapun yang akan ada di masa
depan, aku masih akan disini menajdi sahabatmu. Meski takkan banyak yang dapat
ku lakukan untukmu. Percayalah, seberat apapun itu, ini pundakku untukmu. Kamu
bisa menggunakannya kapanpun kamu mau. Saat kamu siap untuk kembali, kita akan
bangun kembali istana persahabatan kita denga cinta yang lebih kuat. Istana
yang akan dihuni oleh aku dan kamu tanpa serigala berbulu domba. Karna aku akan
pastikan kamu dapatkan pengeran berkuda putihmu yang sebenarnya. Aku
yakin, dia masih ada di luar sana mencari mu dengan jiwa ksatria. Sebelum dia
datang, aku akan menjagamu dalam istana perdahabatan kita. Aku tak berjanji takkan
lagi ada luka, tapi aku yakinkan kamu, kali ini aku akan menjagamu sebelum kamu
terjatuh.
By LK
By LK







0 komentar:
Posting Komentar