Dag
dig dug.. aku bisa mendengar suara langkah kakinya yang mulai mendekat bahkan
dengan jarak sejauh ini. Semakin dekat jantungku semakin berdetak seperti genderang
mau perang. Aku tak bisa mengendalikannya. Berharap tak ada siapapun yang bisa
dengar. Dua bulan yang lalu aku mulai memiliki detak jantung ini. Sebelum dia
datang jantungku masih normal. Hatiku tak pernah ada nama siapapun. Dan
kemudian dia datang merubah segalanya. Aku telah bangun tembok yang kokoh
bersiap jika suatu saat nanti air bah itu datang ingin memporak porandakan
pertahananku. Tapi dia lebih kuat dari apa yang aku kira. Dengan mudah dia
hancurkan kekuatanku. Dan kata orang inilah “cinta”.
Tak
pernah dia katakaan kalimat konyol itu padaku. Tapi aku tetap saja berlutut
atas nama ini padanya. Aku sungguh tak mengerti bagaimana terlalu mudahnya
kamus bahasa duniaku memberi definisi. Asal katanya tak pernah punya sejarah.
Aku selalu berfikir penemunya pastilah orang yang gila dan mencoba memberi definisi
ini. Aku ragu kebenarannya adalah arti yang sebenarnya saat ini. Aku mulai
takut pada kenyataan kisah cinta yang lain. Mungkin saja aku akan menjadi
korban patahnya pemahaman cinta yang tak tersentuh.
Dia disini
dan sekarang berada di dekatku. Dia memang tersenyum tapi itu membuatku takut.
Senyum itu bukanlah untukku. Atau itu hanya pura-pura, aku harus hati-hati, ini
jebakan, aku takkan percaya. Sekeras apa suara nadiku bicara, hatiku tak bisa
terkendali. Aku memakinya, berteriak, berhentilah memanggil namanya dan
berharap. Tapi liat, dia justru malah memaksa mendekat. Jiwa, raga, hati,
akulah pemiliknya. Kalian tak tunduk padaku lagi. Kekuasaanku atas kalian. Jadi
diamlah. Aku semakin berteriak keras pada semua tempat yang dulu aku kuasai,
hatiku.
Aku
membenci cinta bukan karna pengalaman tapi menurutku itu adalah tipuan. Menipu
dengan cara yang indah sama saja dengan kriminal. Tapi tak satupun hukum mampu
menghukumnya. Aku tak bergerak dari tempatku. Tak ku biarkan mataku memandang
ke arahnya. Aku tulikan telingaku dari suaranya. Sungguh, hati coba aku
bekukan. Tidak, pergilah segera dari sini. Aku ingin kau menjauh wahai cinta.
Aku masih menunduk mencoba menaklukkan peperangan ini. Karna aku diam, dia
akhirnya mengalah, dia pergi. Itu mebuatku lega, tapi hatiku menangis. Aku
tertawa, ini benar-benar konyol. Aku menang dalam peperangan, tapi rasanya
kalah saat kembali. Angin bertiup mendendangkan lagu tentang cinta. Sepertinya
alam mencoba membuatku ku memahami yang tak ingin ku pahami. Aku biarkan awan
gelap menarikan sebuah kisah tapi aku tak ingin ada dalam kisah cinta bodoh
ini.
Dia
melangkah pergi akupun juga. Punggungku seperti punya mata seolah melihat
langkah kakinya yang menjauh. Tubuhku satu persatu mulai menghianatiku. Aku
bersikap lebih keras, aku menampar bagian mana saja yang ingin memberontak. Aku
memukul, memaki, menghukum semua bagian yang masih ingin berontak. Tak perduli
sakitnya aku yang rasakan sendiri, aku harus segera berhenti. Aku lelah, tapi
aku sudah berjuang. Tak ada yang boleh melihat kehancuran pertahananku. Karna
aku tak pernah percaya cinta. Aku paling membencinya. Dengan cara apapun aku
akan melenyapkannya. Aku sudah berjanji pada bayanganku tentang itu. Cukuplah
dia yang menemaniku akan kisah yang menjadi dongeng dalam lembaran buku. Aku
tak ingin bermimpi, apa lagi tentang cinta.






0 komentar:
Posting Komentar