Selasa, 07 Juli 2015

Cinta Itu Menyebalkan Part 1





Dag dig dug.. aku bisa mendengar suara langkah kakinya yang mulai mendekat bahkan dengan jarak sejauh ini. Semakin dekat jantungku semakin berdetak seperti genderang mau perang. Aku tak bisa mengendalikannya. Berharap tak ada siapapun yang bisa dengar. Dua bulan yang lalu aku mulai memiliki detak jantung ini. Sebelum dia datang jantungku masih normal. Hatiku tak pernah ada nama siapapun. Dan kemudian dia datang merubah segalanya. Aku telah bangun tembok yang kokoh bersiap jika suatu saat nanti air bah itu datang ingin memporak porandakan pertahananku. Tapi dia lebih kuat dari apa yang aku kira. Dengan mudah dia hancurkan kekuatanku. Dan kata orang inilah “cinta”.
Tak pernah dia katakaan kalimat konyol itu padaku. Tapi aku tetap saja berlutut atas nama ini padanya. Aku sungguh tak mengerti bagaimana terlalu mudahnya kamus bahasa duniaku memberi definisi. Asal katanya tak pernah punya sejarah. Aku selalu berfikir penemunya pastilah orang yang gila dan mencoba memberi definisi ini. Aku ragu kebenarannya adalah arti yang sebenarnya saat ini. Aku mulai takut pada kenyataan kisah cinta yang lain. Mungkin saja aku akan menjadi korban patahnya pemahaman cinta yang tak tersentuh.
Dia disini dan sekarang berada di dekatku. Dia memang tersenyum tapi itu membuatku takut. Senyum itu bukanlah untukku. Atau itu hanya pura-pura, aku harus hati-hati, ini jebakan, aku takkan percaya. Sekeras apa suara nadiku bicara, hatiku tak bisa terkendali. Aku memakinya, berteriak, berhentilah memanggil namanya dan berharap. Tapi liat, dia justru malah memaksa mendekat. Jiwa, raga, hati, akulah pemiliknya. Kalian tak tunduk padaku lagi. Kekuasaanku atas kalian. Jadi diamlah. Aku semakin berteriak keras pada semua tempat yang dulu aku kuasai, hatiku.
Aku membenci cinta bukan karna pengalaman tapi menurutku itu adalah tipuan. Menipu dengan cara yang indah sama saja dengan kriminal. Tapi tak satupun hukum mampu menghukumnya. Aku tak bergerak dari tempatku. Tak ku biarkan mataku memandang ke arahnya. Aku tulikan telingaku dari suaranya. Sungguh, hati coba aku bekukan. Tidak, pergilah segera dari sini. Aku ingin kau menjauh wahai cinta. Aku masih menunduk mencoba menaklukkan peperangan ini. Karna aku diam, dia akhirnya mengalah, dia pergi. Itu mebuatku lega, tapi hatiku menangis. Aku tertawa, ini benar-benar konyol. Aku menang dalam peperangan, tapi rasanya kalah saat kembali. Angin bertiup mendendangkan lagu tentang cinta. Sepertinya alam mencoba membuatku ku memahami yang tak ingin ku pahami. Aku biarkan awan gelap menarikan sebuah kisah tapi aku tak ingin ada dalam kisah cinta bodoh ini.
Dia melangkah pergi akupun juga. Punggungku seperti punya mata seolah melihat langkah kakinya yang menjauh. Tubuhku satu persatu mulai menghianatiku. Aku bersikap lebih keras, aku menampar bagian mana saja yang ingin memberontak. Aku memukul, memaki, menghukum semua bagian yang masih ingin berontak. Tak perduli sakitnya aku yang rasakan sendiri, aku harus segera berhenti. Aku lelah, tapi aku sudah berjuang. Tak ada yang boleh melihat kehancuran pertahananku. Karna aku tak pernah percaya cinta. Aku paling membencinya. Dengan cara apapun aku akan melenyapkannya. Aku sudah berjanji pada bayanganku tentang itu. Cukuplah dia yang menemaniku akan kisah yang menjadi dongeng dalam lembaran buku. Aku tak ingin bermimpi, apa lagi tentang cinta.

0 komentar:

Posting Komentar

www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com