Oleh : Siti Aisyah Fitria A
Ketika kau dihadapkan pada suatu pilihan, akan berjalan atau
terhenti? Memilih maju atau mundur? Ketika kau dihadapkan pada suatu dilema
yang kau tak tau sendiri dimana letak salah dan benarnya? Dimana jalan terbaik
dan terburuknya? Semua terasa seperti lingkaran yang tak pernah berujung.
Keteguhan hatilah yang akan menjadi teman setia ketika otak sudah tak mampu
lagi untuk melaksanakan tugasnya.
Dunia ini memang sulit untuk ditebak, kadangkala kita merasa
itulah hal terbaik untuk kita kejar sementara semesta tak mendukung? Mau tak
mau, suka tidak suka kita harus menempuh jalan yang diarahkan oleh semesta.
Sementara, kadangkala kita berpikir itu bukan
merupakan hal yang baik untuk kita bahkan kita sangat membencinya, ternyata
seluruh atom-atom yang berada di sekitar kita mengarahkan kita untuk
menempuh jalan itu, maka apa boleh buat?
Ada rahasia alam yang kau sendiri tak pernah tau sebelum kau
lewati alurnya yang secara perlahan akan mengungkap tabir kerahasiaannya, yang
ternyata ketika kau tau, kau baru merasa bahwa memang itulah jalan yang terbaik
yang bahkan akan menjadi sesuatu yang kau tak pernah duga sebelumnya.
Misteri memang, tapi begitulah cara Tuhan membuat skenario
dalam hidup ini. Andai saja semua yang kita mau terpenuhi dan semua yang kita
tidak sukai tidak terjadi maka tak pernah ada kata gigih, kerja keras, susah
payah, mati-matian atau apalah itu dalam kamus hidup ini yang ada hanyalah
kemalasan yang tiada batasnya dan semua akan terasa hambar karena semuanya
dapat terpenuhi tanpa kita perlu mengusahakannya.
“Berlelah-lelahlah karena manisnya hidup terasa
setelah lelah berjuang”
Ketika kita tak pernah tau berapa fajar lagi yang tersisa
dalam pengembaraan ini, berapa botol tinta yang tersisa untuk melukis kanvas
kehidupan, berapa waktu yang dibutuhkan untuk menghabisi air di lautan maka
seorang bertanya,
“Kapan seorang mukmin itu beristirahat?”
Imam Ahmad menjawab: “Ketika ia telah menginjakkan kakinya
di syurga”.
“Begitu juga jika Muhammad berpikir sebagaimana engkau
menalar tidakkah ia punya banyak saat untuk memilih berhenti? Tapi Muhammad
tahu kawan, ridho Allah tak terletak pada sulit atau mudahnya, berat atau
ringannya, bahagia atau deritanya, senyum atau lukanya, tawa atau tangisnya.
Ridho Allah terletak pada apakah kita menaati-Nya dalam menghadapi semua itu,
apakah kita berjalan dengan menjaga perintah-Nya atau larangan-Nya dalam
semua ikhtiar yang kita lakukan?
Maka selama disitu engkau berjalan, bersemangatlah kawan”
(Salim A. Fillah)
Maka dari itu hidup ini adalah sebuah pilihan segeralah
tentukan pilihanmu atau pilihanlah yang akan menentukan hidup






0 komentar:
Posting Komentar