Oleh : Innani Kharisma Anwar
Pagi
itu Sarmin masih terpaku di ruang makan sederhana tempat ia tinggal bersama
istrinya. Masih seperti pagi kemarin, sinar pagi yang kaya vitamin D itu
muncrat dari arah timur dan masuk ke dalam rumahnya melalui jendela ruang
makannya. Itulah sebab tulangnya tak segera rapuh walau ia sudah berumur
banyak. Seperti biasanya setiap pagi tersuguh dihadapannya semangkuk mie dog-dog.
Kali ini paginya sedikit berbeda, karena mie dog-dog buatannya tak seenak
buatan istrinya. Mienya sedikit besar-besar dan sudah hilang kuahnya sebab tak
segera ia makan. Tatapannya kosong sejak sejam yang lalu. Bayangan tentang
hari-harinya bersama Syalimah tak dapat segera pergi meninggalkan fikirannya.
Setetes demi setetes airmatanya berjatuhan diatas meja, sebab ia tak kuasa
mengendalikan diri menerima sebuah takdir. Baru kemarin sore dirinya melihat
syalimah, istri tercintanya terbujur kaku dengan wajah tak berbentuk wajah
manusia lagi sebab kecelakaan pesawat yang dialaminya tempo hari. Terkenang
beberapa kisah menyenangkan yang ia lewati bersama istri tercintanya itu....
“Syalimah, hari
sudah mau sore ini anak-anak sudah menunggu... cepatlah!!??” teriak Sarmin dari
dari depan rumah kepada Syalimah di dapur.
“Iya kanda
bersabarlah, ajak dulu anak-anak belajar mengaji...” jawabnya halus dari dapur,
suaranya yang lemah lembut itu selalu membuat hati Sarmin tentram.
Mereka
berdua tidak punya anak hasil pernikahan mereka, sebab dokter telah menyatakan
pernyataan yang pahit, bahwa kandungannya tidak kuat dikarenakan kelainan darah
yang diidap oleh Syalimah, namun rasa cinta Sarmin terhadapnya tak berkurang
sedikitpun. Tak ada niat pula Sarmin mencari istri baru, walau pernah Syalimah
menyuruhnya.
Sedangkan
anak-anak yang dimaksudkan kali ini ialah para anak gelandangan yang tak punya
ibu dan bapak. Setiap sore dikumpulkannya mereka di halaman rumah untuk
diberikan makan, baju, tas, dan buku. Uang gajian Sarmin di sedekahkan untuk
anak-anak itu, sedangkan untuk kehidupan ia dan istrinya, ia sisihkan sedikit.
Sarmin
adalah seorang Dosen di suatu Universitas Muhammadiyah dikotanya, sedangkan
Syalimah sebagai ibu rumah tangga yang dulunya adik tingkat Sarmin semasa
kuliah. Syalimah 2 tahun lebih muda dari Sarmin, dan yang unik bahwa hari
kelahiran mereka sama. Mereka adalah teman seorganisasi di kampus, di Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Sarmin begitu menyayangi Syalimah lebih dari ia
menyayangi dirinya sendiri.
Dulunya
Sarmin tidak terlalu melihat Syalimah, walau mereka satu organisasi, sebab
Syalimah berperawakan biasa saja. Awal mula Sarmin menyukai Syalimah adalah
ketika melihat Syalimah memberikan bekal makan siangnya kepada seorang pengemis
dipinggir jalan, padahal Sarmin paham betul sejak pagi Syalimah belum
memasukkan makanan barang secuilpun kedalam mulutnya. Hati Sarmin seketika
luluh dan mencair layaknya es batu di dalam segelas es teh. Dan meleleh seperti
lilin ketika pengemis itu senang tak karuan melahap Mie Dog-dog buatan
Syalimah. Sejak saat itu Sarmin mulai terpesona dengan kelembutan hati
Syalimah. Sudah setahun Sarmin dan Syalimah berada di IMM, tapi baru kali itu
Sarmin merasakan jatuh cinta yang murni dari dalam hatinya untuk Syalimah.
Sejak
kejadian yang membuat hatinya meleleh itu, Sarmin mulai mendekati Syalimah
namun tidak secara langsung, melainkan dengan alasan ia ingin makan Mie
dog-dog. Bahkan Syalimah tak keberatan dengan permintaannya itu, dibawakannya
mulai dari tiap sebulan sekali, lalu seminggu sekali, lama-lama setiap siang ia
dibawakan mie dog-dog. Karena seringnya mereka bertemu, akhirnya mereka saling
jatuh cinta dan menikah.
Setiap
setelah pulang mengajar, Sarmin selalu membawa segerombolan anak-anak
gelandangan untuk di ajaknya mengaji iqro’ dan makan bersama dirumahnya dengan
menu Mie Dog-dog buatan istrinya. Mie dog-dog itu sudah dimodifikasi dengan
berbagai bumbu yang di racik Syalimah sendiri.
Kebiasaan
memberi makan dan mengajari mengaji Al-Qur’an anak-anak gelandangan adalah
sebab ia kebiasaan melakukan hal itu ketika berada di IMM dulu. Berbagai
kegiatan di IMM menjadikannya seorang pendakwah yang gemar bersosialisasi
dengan masyarakat, diapun dicintai oleh masyarakat karena kebajikannya.
Berbagai kegiaan mulai dari mengadakan Bakti sosial, penyuluhan kesehatan,
serta pengobatan gratis ia lakukan bersama dengan IMM. Yang itu membuatnya
senang ketika bergelut dengan istilah sosial.
“Bismillahirrahmaanirrahim.........”
suara teriakan anak-anak sedang semangat mengaji sampai terdengar ke dapur.
Sedangkan Syalimah tersenyum dalam bibir dan hatinya.
Selagi
anak-anak sedang diajari mengaji, Syalimah menyiapkan mie dog-dog dalam
mangkuk-mangkuk mungil untuk 15 anak itu, kesemuanya sudah ia anggap sebagai
anak sendiri.
“mmmm.... mie
buatan ibu Imah paling top di dunia hehehe....” puji mereka setelah menyantap
mie dog-dog.
“makasih sayang..
hmmm makan yang banyak ya... biar cepat besar” kata Syallimah sambil
mengelus-elus kepala salah satu dari mereka
“Besok kalau kita
kesini lagi bikin mie dog-dog lagi ya Umi, eh ibu Imah hehe”
“Iya
Sayaanggg........pasti” jawab Syalimah dengan suaranya yang lembut
Ia bahagia dapat
meneruskan hobinya dulu ketika di IMM yaitu melayani masyarakat dan anak-anak
gelandangan.
Seminggu
3 kali pasangan suami istri itu menjemput anak-anak gelandangan di jalan
layaknya menjemput anak kandungnya sendiri. Bahkan anak-anak itu sampai hafal
kapan Sarmin menjemput mereka, yaitu hari senin, jumat, dan minggu. Karena
hanya hari itulah waktu longgar Sarmin. Pernah suatu ketika di hari selasa di
ulang tahun Sarmin, anak-anak itu datang membawa kado yang sangat besar untuk
guru mereka itu. Namun mereka tak mendapati Sarmin dirumahnya sebab ia masih
rapat di kampus untuk pengangkatan dirinya menjadi Dekan sedangkan Syalimah
hadir bersamanya.
Mereka,
anak-anak ber 15 itu tak segan-segan menunggu Sarmin hingga malam hari hanya
untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Hingga tibalah Sarmin terkaget melihat
anak-anak itu sudah berada di depan gerbang rumahnya. Secara, ia bersama
Syalimah langsung keluar dari mobil dan berlari menuju anak-anak itu dan
anak-anak itu pun lari menghampiri mereka dan memeluk Sarmin dan Syalimah,
sambil berteriak,
“Selamat Ulang
tahun Abiii dan Umiiii.............”,
Sarmin dan
Syalimah, mereka berdua malah saling tatap menatap tak dapat berkata-kata
mendengar panggilan itu, hanya reflek bening di mata. Serta merta hilanglah
segala lelah dibadan melalui beberapa tetes air mata yang membasahi pipi.
Anak-anak itu mencintai mereka dan merekapun mencintai anak-anak itu.
Pagi
berganti sore, seharian Sarmin berada di rumah, hari itu dia tak bekerja sebab
mengambil cuti 2 hari karena meninggalnya anggota keluarga. Hari itu hari Jumat
yang harusnya ia sudah menjemput anak-anak, namun ia tidak menjemputnya.
Tiba-tiba terdengar suara anak-anak didiknya dari luar rumah sambil
menyanyi....
Tepuk anak sholeh (prok.prok.prok) aku (prok.prok.prok)
anak sholeh (prok.prok.prok) rajin sholat (prok.prokyprok) rajin ngaji
(prok.prok.prok) orang tua (prok.prok.prok) dihormati(prok.prok.prok) cinta
islam (prok.prok.prok) sampai mati Lailahaillallah Muhammadur rasulullah islam
islam yes kafir kafir no! Yeeeee...
tepuk anak sholeh,
tepuk wudlu, lalu menghafal nama-nama nabi yang pernah diajarkan Sarmin. Mereka
datang dengan semangat yang menggebu-gebu, mereka datang dengan berjalan kaki,
sebab rasa cintanya mereka kepada Sarmin yang sangat besar dihati.
Tiba-tiba
hati Sarmin tergugah, hilang semua kesedihannya, ia sadar bahwa kematian
istrinya bukanlah kematian hatinya juga. Seketika itu juga Sarmin menyambut
mereka dengan perasaan bahagia. Ia sadar bahwa di dunia ini dia mempunyai
tanggung jawab untuk mendidik ke 15 anak itu. Dan akhirnya Sarmin kembali
menjadi dirinya yang periang seperti dulu dengan anak-anaknya walau tanpa mie
dog-dog istrinya lagi. Dan ia bahagia memiliki mereka.
“Tililit-tililit.....”
Telepon berdering-dering.
“Sebentar ya
anak-anaku, Abi mau ngangkat telepon dulu...”
Dilihatnya telepon
merah itu, masih ada Lambang IMM di sudut kanan bawahnya, itulah kado dari IMM
atas pernikahannya dulu dengan Syalimah. Itulah telepon yang selalu Syalimah
gunakan untuk menelponnya setiap hari. Diangkatnya telpon itu...
“Assalamualaikum.....???”
“Waalaikumsalam...”
“Dengan Bapak
Sarmin?” tanya seseorang dari dalam telepon
“Iya, ada apa ya?”
“Kami dari Tim
Evakuasi kecelakaan pesawat Air Lines, memohon maaf bahwa jenazah yang kami
kirim ke rumah bapak tempo hari bukan jenazah Ibu Syalimah. Dan Alhamdulillah
Ibu Syalimah selamat walau dengan luka yang cukup parah”
“Subhanallaaahhh.
Alhamdulillah,” Sarmin berurai-urai air mata, mendengar kabar gembira itu.
“sekarang istri
saya dirawat dimana ?”
“istri bapak
dirawat PKU Muhammadiyah Jakarta, dan kondisinya sudah meembaik”
“Alhamdulillah,
terimakasih pak”
“Iya sama-sama,
cukup itu saja pak wassalamualaikum”
“Waalaikumsalam....”
Sarmin kemudian
bergegas membereskan semua baju-bajunya untuk segera berangkat ke jakarta,
bersama semua anak-anak asuhnya menjenguk Syalimah. Awalnya Sarmin melarang
mereka ikut, tapi mereka memaksa dan akhirnya mereka ikut juga menjenguk
Syalimah, Ibunya.






0 komentar:
Posting Komentar