Rabu, 10 Desember 2014

Cinta dalam Mie Dog-dog



Oleh : Innani Kharisma Anwar
Pagi itu Sarmin masih terpaku di ruang makan sederhana tempat ia tinggal bersama istrinya. Masih seperti pagi kemarin, sinar pagi yang kaya vitamin D itu muncrat dari arah timur dan masuk ke dalam rumahnya melalui jendela ruang makannya. Itulah sebab tulangnya tak segera rapuh walau ia sudah berumur banyak. Seperti biasanya setiap pagi tersuguh dihadapannya semangkuk mie dog-dog. Kali ini paginya sedikit berbeda, karena mie dog-dog buatannya tak seenak buatan istrinya. Mienya sedikit besar-besar dan sudah hilang kuahnya sebab tak segera ia makan. Tatapannya kosong sejak sejam yang lalu. Bayangan tentang hari-harinya bersama Syalimah tak dapat segera pergi meninggalkan fikirannya. Setetes demi setetes airmatanya berjatuhan diatas meja, sebab ia tak kuasa mengendalikan diri menerima sebuah takdir. Baru kemarin sore dirinya melihat syalimah, istri tercintanya terbujur kaku dengan wajah tak berbentuk wajah manusia lagi sebab kecelakaan pesawat yang dialaminya tempo hari. Terkenang beberapa kisah menyenangkan yang ia lewati bersama istri tercintanya itu....
“Syalimah, hari sudah mau sore ini anak-anak sudah menunggu... cepatlah!!??” teriak Sarmin dari dari depan rumah kepada Syalimah di dapur.
“Iya kanda bersabarlah, ajak dulu anak-anak belajar mengaji...” jawabnya halus dari dapur, suaranya yang lemah lembut itu selalu membuat hati Sarmin tentram.
Mereka berdua tidak punya anak hasil pernikahan mereka, sebab dokter telah menyatakan pernyataan yang pahit, bahwa kandungannya tidak kuat dikarenakan kelainan darah yang diidap oleh Syalimah, namun rasa cinta Sarmin terhadapnya tak berkurang sedikitpun. Tak ada niat pula Sarmin mencari istri baru, walau pernah Syalimah menyuruhnya.
Sedangkan anak-anak yang dimaksudkan kali ini ialah para anak gelandangan yang tak punya ibu dan bapak. Setiap sore dikumpulkannya mereka di halaman rumah untuk diberikan makan, baju, tas, dan buku. Uang gajian Sarmin di sedekahkan untuk anak-anak itu, sedangkan untuk kehidupan ia dan istrinya, ia sisihkan sedikit.
Sarmin adalah seorang Dosen di suatu Universitas Muhammadiyah dikotanya, sedangkan Syalimah sebagai ibu rumah tangga yang dulunya adik tingkat Sarmin semasa kuliah. Syalimah 2 tahun lebih muda dari Sarmin, dan yang unik bahwa hari kelahiran mereka sama. Mereka adalah teman seorganisasi di kampus, di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Sarmin begitu menyayangi Syalimah lebih dari ia menyayangi dirinya sendiri.
Dulunya Sarmin tidak terlalu melihat Syalimah, walau mereka satu organisasi, sebab Syalimah berperawakan biasa saja. Awal mula Sarmin menyukai Syalimah adalah ketika melihat Syalimah memberikan bekal makan siangnya kepada seorang pengemis dipinggir jalan, padahal Sarmin paham betul sejak pagi Syalimah belum memasukkan makanan barang secuilpun kedalam mulutnya. Hati Sarmin seketika luluh dan mencair layaknya es batu di dalam segelas es teh. Dan meleleh seperti lilin ketika pengemis itu senang tak karuan melahap Mie Dog-dog buatan Syalimah. Sejak saat itu Sarmin mulai terpesona dengan kelembutan hati Syalimah. Sudah setahun Sarmin dan Syalimah berada di IMM, tapi baru kali itu Sarmin merasakan jatuh cinta yang murni dari dalam hatinya untuk Syalimah.
Sejak kejadian yang membuat hatinya meleleh itu, Sarmin mulai mendekati Syalimah namun tidak secara langsung, melainkan dengan alasan ia ingin makan Mie dog-dog. Bahkan Syalimah tak keberatan dengan permintaannya itu, dibawakannya mulai dari tiap sebulan sekali, lalu seminggu sekali, lama-lama setiap siang ia dibawakan mie dog-dog. Karena seringnya mereka bertemu, akhirnya mereka saling jatuh cinta dan menikah.
Setiap setelah pulang mengajar, Sarmin selalu membawa segerombolan anak-anak gelandangan untuk di ajaknya mengaji iqro’ dan makan bersama dirumahnya dengan menu Mie Dog-dog buatan istrinya. Mie dog-dog itu sudah dimodifikasi dengan berbagai bumbu yang di racik Syalimah sendiri.
Kebiasaan memberi makan dan mengajari mengaji Al-Qur’an anak-anak gelandangan adalah sebab ia kebiasaan melakukan hal itu ketika berada di IMM dulu. Berbagai kegiatan di IMM menjadikannya seorang pendakwah yang gemar bersosialisasi dengan masyarakat, diapun dicintai oleh masyarakat karena kebajikannya. Berbagai kegiaan mulai dari mengadakan Bakti sosial, penyuluhan kesehatan, serta pengobatan gratis ia lakukan bersama dengan IMM. Yang itu membuatnya senang ketika bergelut dengan istilah sosial.
“Bismillahirrahmaanirrahim.........” suara teriakan anak-anak sedang semangat mengaji sampai terdengar ke dapur. Sedangkan Syalimah tersenyum dalam bibir dan hatinya.
Selagi anak-anak sedang diajari mengaji, Syalimah menyiapkan mie dog-dog dalam mangkuk-mangkuk mungil untuk 15 anak itu, kesemuanya sudah ia anggap sebagai anak sendiri.
“mmmm.... mie buatan ibu Imah paling top di dunia hehehe....” puji mereka setelah menyantap mie dog-dog.
“makasih sayang.. hmmm makan yang banyak ya... biar cepat besar” kata Syallimah sambil mengelus-elus kepala salah satu dari mereka
“Besok kalau kita kesini lagi bikin mie dog-dog lagi ya Umi, eh ibu Imah hehe”
“Iya Sayaanggg........pasti” jawab Syalimah dengan suaranya yang lembut
Ia bahagia dapat meneruskan hobinya dulu ketika di IMM yaitu melayani masyarakat dan anak-anak gelandangan.
Seminggu 3 kali pasangan suami istri itu menjemput anak-anak gelandangan di jalan layaknya menjemput anak kandungnya sendiri. Bahkan anak-anak itu sampai hafal kapan Sarmin menjemput mereka, yaitu hari senin, jumat, dan minggu. Karena hanya hari itulah waktu longgar Sarmin. Pernah suatu ketika di hari selasa di ulang tahun Sarmin, anak-anak itu datang membawa kado yang sangat besar untuk guru mereka itu. Namun mereka tak mendapati Sarmin dirumahnya sebab ia masih rapat di kampus untuk pengangkatan dirinya menjadi Dekan sedangkan Syalimah hadir bersamanya.
Mereka, anak-anak ber 15 itu tak segan-segan menunggu Sarmin hingga malam hari hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Hingga tibalah Sarmin terkaget melihat anak-anak itu sudah berada di depan gerbang rumahnya. Secara, ia bersama Syalimah langsung keluar dari mobil dan berlari menuju anak-anak itu dan anak-anak itu pun lari menghampiri mereka dan memeluk Sarmin dan Syalimah, sambil berteriak,
“Selamat Ulang tahun Abiii dan Umiiii.............”,
Sarmin dan Syalimah, mereka berdua malah saling tatap menatap tak dapat berkata-kata mendengar panggilan itu, hanya reflek bening di mata. Serta merta hilanglah segala lelah dibadan melalui beberapa tetes air mata yang membasahi pipi. Anak-anak itu mencintai mereka dan merekapun mencintai anak-anak itu.
Pagi berganti sore, seharian Sarmin berada di rumah, hari itu dia tak bekerja sebab mengambil cuti 2 hari karena meninggalnya anggota keluarga. Hari itu hari Jumat yang harusnya ia sudah menjemput anak-anak, namun ia tidak menjemputnya. Tiba-tiba terdengar suara anak-anak didiknya dari luar rumah sambil menyanyi....
Tepuk anak sholeh (prok.prok.prok) aku (prok.prok.prok) anak sholeh (prok.prok.prok) rajin sholat (prok.prokyprok) rajin ngaji (prok.prok.prok) orang tua (prok.prok.prok) dihormati(prok.prok.prok) cinta islam (prok.prok.prok) sampai mati Lailahaillallah Muhammadur rasulullah islam islam yes kafir kafir no! Yeeeee...
tepuk anak sholeh, tepuk wudlu, lalu menghafal nama-nama nabi yang pernah diajarkan Sarmin. Mereka datang dengan semangat yang menggebu-gebu, mereka datang dengan berjalan kaki, sebab rasa cintanya mereka kepada Sarmin yang sangat besar dihati.
Tiba-tiba hati Sarmin tergugah, hilang semua kesedihannya, ia sadar bahwa kematian istrinya bukanlah kematian hatinya juga. Seketika itu juga Sarmin menyambut mereka dengan perasaan bahagia. Ia sadar bahwa di dunia ini dia mempunyai tanggung jawab untuk mendidik ke 15 anak itu. Dan akhirnya Sarmin kembali menjadi dirinya yang periang seperti dulu dengan anak-anaknya walau tanpa mie dog-dog istrinya lagi. Dan ia bahagia memiliki mereka.
“Tililit-tililit.....” Telepon berdering-dering.
“Sebentar ya anak-anaku, Abi mau ngangkat telepon dulu...”
Dilihatnya telepon merah itu, masih ada Lambang IMM di sudut kanan bawahnya, itulah kado dari IMM atas pernikahannya dulu dengan Syalimah. Itulah telepon yang selalu Syalimah gunakan untuk menelponnya setiap hari. Diangkatnya telpon itu...
“Assalamualaikum.....???”
“Waalaikumsalam...”
“Dengan Bapak Sarmin?” tanya seseorang dari dalam telepon
“Iya, ada apa ya?”
“Kami dari Tim Evakuasi kecelakaan pesawat Air Lines, memohon maaf bahwa jenazah yang kami kirim ke rumah bapak tempo hari bukan jenazah Ibu Syalimah. Dan Alhamdulillah Ibu Syalimah selamat walau dengan luka yang cukup parah”
“Subhanallaaahhh. Alhamdulillah,” Sarmin berurai-urai air mata, mendengar kabar gembira itu.
“sekarang istri saya dirawat dimana ?”
“istri bapak dirawat PKU Muhammadiyah Jakarta, dan kondisinya sudah meembaik”
“Alhamdulillah, terimakasih pak”
“Iya sama-sama, cukup itu saja pak wassalamualaikum”
“Waalaikumsalam....”
Sarmin kemudian bergegas membereskan semua baju-bajunya untuk segera berangkat ke jakarta, bersama semua anak-anak asuhnya menjenguk Syalimah. Awalnya Sarmin melarang mereka ikut, tapi mereka memaksa dan akhirnya mereka ikut juga menjenguk Syalimah, Ibunya.

0 komentar:

Posting Komentar

www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com