Akhir Cerita
Cinta
Guliran
ombak menerpa kakiku bersamanya. Mendendangkan lagu kasih tentang kita berdua.
Sinar surya tenggelam bersama heningnya malam. Seraya kulihat mentari menutup
usianya di senja kesorean pantai Senggigi. Serasa begitu indah melewatkan sun
set bersama sang pujaan hati.
“Ayo
pulang Dha… “ kataku serambi mengulurkan
tangan dengan tujuan agar Werdha
cepat berdiri.
“Ah,
gak mau Rima, masih asik disini” kata Werdha sambil mencubit pipiku yang
tembem.
“Ayolah
Dha dah sepi.” kataku merengek sambil memegang tangan Werdha
“Iya
kita pulang “ jawabnya lesu, lemah dan letih.
Malamnya
Werdha mengirimkan sebait puisi untukku. Dengan riang gembira kubuka pesan dari
my knight. Sebuah puisi yang indah dan romantic.
Dear Arima
Ar-Rafiq
Sinar berlian
mentari
Menyeruak sejuk
di lubuk hati
Angin sore nan
panjang
Datang pergi
indah di pandang
Disini kusendiri
Menanti Arima
datang kemari
Menanti cinta
yang takkan bisa berlalu
Membawa kenangan
yang selalu menyatu
Kuyakinkan janji
demi sang dewi
Untuk selalu
menemani
From : Werdha Al
Faruq
Kubawakan
seutas senyum demi sang ksatria. Senyum untuk sang pacar. Dan selalu tersenyum.
“Anak
Mama kok senyum sendiri?” tanya Mama diujung pintu sambil membawakan sebuah
apel.
“Ah
Mama kagetin aja dech. Kan Rima lagi seneng Ma?” jawabku dengan malu dan
langsung menyamber apel bawaan Mama.
“Oo
gitu, kalau seneng tidak cerita tapi kalau sedih langsung nangis dipelukan
Mama.” jawab Mama sambil duduk di kasurku.
“Bukan
gitu Ma, tapi memang lagi males cerita.” jawabku lugas sambil memeluk Mama.
“Iya
Mama mengerti. Kalau begitu cepetan tidur ya?”
“Ok
Ma.” jawabku sambil menutup pintu kamar.
Kubuka
jendela kamar dimana angin pagi menyeruak dan menyejukkan seisi kamar. Badan
yang lemas menjadi segar kembali melihat mentari tersenyum indah menyapaku.
Keinginan melewati hari untuk bersama dengan Werdha musnah sudah. Werdha sibuk
bekerja di Industri Mesin. Susah memang memiliki pacar yang sibuk dimana harus
mengatur antara kuliah, kerja, keluarga, dan pacar. Tapi Werdha selalu ada
untukku. Walaupun tidak bisa bertemu setiap hari. Kadang rasa rindu datang
menyelimuti hati tetapi harus bagaimana lagi aku harus berfikir bahwa Werdha
bekerja juga untuk aku kelak nanti. Walaupun sudah berpacaran setahun lebih
tapi tak ada rasa bosan dihatiku.
Kubuang rasa sedih sejauh mungkin. akhirnya aku membantu Mama membuat
rangkaian bunga untuk hiasan rumah.
Pagi
berganti siang, siang berganti sore. Setelah sore melebur bergulirlah malam.
Dimana malam ini begitu special. Kutunggu kedatangan Werdha di tepi pantai
dengan menikmati buliran air pantai yang asin dan dingin. Tak lama kemudian Werdha
datang membawakan bunga mawar merah yang indah.
“Ini
mawar merah buat my fairy” katanya dengan gaya yang begitu mesra
“Thanks
for my love knight” kataku membalas dan kuayunkan tangan beranjak mencubit
hidungnya.
“Arima,
aku pengen ngomong.” katanya sambil memandangku dengan wajah lugu.
“Iya
ngomong aja Knight.” balasku dengan membalas pandangannya serambi melontarkan
kerikil kecil kea rah pantai.
“Aku
ingin mengikuti rekrutmen jadi pekerja pabrik mobil di Jepang. Apakah kamu
mengijinkan aku jika aku diterima dan bekerja di Jepang?” katanya sambil
melihat bulan sabit di langit.
“Tentu
saja aku mengijinkanmu, Bukankah ini impianmu. Dan sekarang impianmu akan
menjadi kenyataan. Aku support selalu knight” jawabku yakin dan memndangnya
serta mengerlingkan mataku pertanda aku sangat setuju.
“Walaupun
nanti aku jadi ke Jepang aku selalu disampingmu fairy.” jawabnya dengan
mencubit hidungku.
“Asalkan
kamu selalu jaga cinta kita, aku selalu menunggumu disini.” jawabku dengan nada
rendah dan menundukkan kepalaku.
“Aku
takkan mengecewakanmu. Aku janji” jawabnya dengan mengangkat wajahku agar aku
tahu bahwa dia begitu yakin.
Setelah
aku berada dikamar, aku menangis akankah aku kuat ditinggal kekasih apabila dia
diterima untuk bekerja di Jepang. Aku berfikir keras dan aku duduk termangu
diatas balkon sambil melihat bintang berkilauan. Kuhapus seribu air mataku dan
aku berfikir bahwa ini jalan terbaik, aku yakin dia bisa menjaga cinta ini.
Akhirnya kuterlelap di heningan malam.
Seminggu
kemudian aku bertemu dengan Werdha ditepi pantai Senggigi. Kulihat muka Werdha begitu
kusam dan tak bersemangat sedikit pun.
“Kamu
kenapa Werdha?” tanyaku dengan mimic wajah yang bingung sambil memegang wajah Werdha
“Enggak kok, aku gak kenapa-napa.” jawabnya dengan santai sambil menurunkan
tanganku dari wajahnya.
“Sini
cerita Werdha katanya hari ini pengumuman. “ tanyaku pengen tahu dengan membuka
botol air minum.
“Aku
ketrima kerja di Jepang. “ jawab Werdha dengan biasa sembari mengambil botol
air minum di pasir.
“Horeeee.
Loh, seharusnya kan kamu seneng Werdha, tapi kenapa kamu malah kusut kayak
gini. “ jawabku bingung sambil memandangi wajahnya yang tampan.
“Tetapi
ada satu persyaratan yang harus kulakukan, yaitu menikah. Di surat tertulis
bahwa yang diterima bekerja di Jepang harus menikah dalam jangka waktu 1 bulan
sesudah hari ini. Apa kamu mau menikah denganku dalam tempo waktu yang begitu
cepat.” Werdha
menjawab dengan tatapan kosong kearah laut lepas.
Aku
terdiam sambil berjalan kearah pantai yang ombaknya meriuk kegirangan. Aku
menatap pohon kelapa yang melambai di kejauhan tak tahu apa yang harus
kukatakan dengan Werdha.
“Bicarakan
dulu dengan kedua orangtuamu. Aku tidak bisa menikah denganmu secepat itu, aku
masih kuliah semester 6 dan
aku diwajibkan untuk tidak menikah sebelum aku lulus S1. “ jawabku menangis dan
melemparkan kerikil tajam ke pantai.
“Iya
aku tahu, dan jika semua seperti ini aku memilih untuk terus bersama cintamu
tanpa harus pergi ke Jepang walaupun itu impian hidupku. Tapi bersama cintamu itulah mimpiku yang
sebenarnya. “ balasnya dengan memandang kearahku.
“Jangan
berkata seperti itu kuserahkan semua keputusan kepadamu. Kamu sudah dewasa kamu
bisa memilih mana yang pantas untuk dirimu. Aku mendoakan yang terbaik
untukmu.” jawabku dengan memegang erat
tanganya guna untuk meyakinkan dirinya dan aku pergi dengan tatapan wajah yang
penuh haru.
Dijalan
aku menangis tak karuan, angin laut selaksa mengejekku. Aku tak peduli atas
nyanyian angin itu. Aku hanya ingin menangis dan menangis. Kudendangkan lagu
sedih di mobilku. Agar aku tak begitu sedih memikirkan ini. Akankah aku harus
berpisah dengan Werdha untuk selamanya.
Pagi
ini ku tak semangat sedikitpun, tak ada gairah untuk melakukan aktifitas, tapi
aku harus semangat karena hari ini aku harus menjemput Papaku yang datang dari
Spanyol. Akhirnya aku dan Mama bergegas dan kutancapkan gas pada mobil Toyota
Rush milikku, kuhapus kesedihanku, dimana aku harus menemani Mama menjemput Papa
karena aku adalah anak semata mayang mereka, jadi harus mau mengantar Mama
kemana saja walaupun ada sopir dirumah. Tapi Mama lebih merasa nyaman denganku.
Lima
belas menit menunggu. Ternyata Papa tampak dari kejauhan. Papa yang selalu
kurindukan dan kubanggakan.
“Pappaaa……”
teriaku dengan berlari mendekati papa dan mencium pipi Papa.
“Anak
Papa sudah dewasa ternyata, cantik dan pintar anak Papa ini” jawab Papa sambil mencubit pipiku
Selesai
makan siang bersama,kami sampai dirumah dan aku langsung membantu Papa
menurunkan kopernya. Aku langsug meminta oleh-oleh dari Papa, dan Papa langsung
memberikan aku jaket dari wol asli Spanyol, sepatu boot yang lucu dan aneka
pernak pernik asli Spanyol lainya. Setelah kuucap terima kasih untuk Papa aku
langsung melaju keatas kamar.
Setelah
5 hari, akhirnya Werdha menelponku dan mengajakku untuk pergi ke pantai
Senggigi. Akhirnya aku mandi dan berdandan setelah itu melaju kencang diatas
jok Rushku. Kulihat Werdha duduk merenung di dekat pantai sembari melihat
mentari yang mulai pergi ke peraduannya.
“Hai..
“ sapaku dengan wajah lucu dan duduk manis didekat Werdha.
“Hai
juga. Aku langsung ngomong aja ya soal kemarin” balasnya dengan nada cuek
seperi bebek yang tak dikasih makan.
“Oke..
“ jawabku setuju dengan mengerlingkan mataku ke pandangan Werdha.
“Setelah
aku berunding dengan keluargaku dan setelah aku merenung, berikhtiyar, dan
berdoa kepada-Nya, aku akan bilang kalau hubungan kita sampai disina saja.
Ayahku menginginkan agar aku cepat menikah dengan Risa, (perempuan pilihan
ayahku). Ayahku ingin aku segera ke Jepang. Sebenarnya aku tak ingin seperti
ini tapi orang tuaku yang menginginkan itu dan ayahku berkata untuk memilih
antara kamu dan keluarga. Aku tak bisa menolak ayahku dan aku harus
meninggalkanmu. Maafkan aku. Mungkin ini adalah cobaan untuk kita jika kelak
kita berjodoh kita pasti akan kembali.” jawabnya sambil menahan butiran air
mata yang seakan tak mampu untuk dibendung.
“Jika
ini yang terbaik untuk kita dan keluargamu aku coba untuk sanggup merelakanmu
demi orang lain, walaupun mungkin membutuhkan waktu yang sangat amat lama. Aku
coba untuk memahami semua ini. Terima kasih selama 1 tahun 4 bulan kamu selalu
ada untukku.” jawabku dengan perasaan yang seolah runtuh.
“Jaga
dirimu baik-baik ya? Aku selalu mengingatmu.” jawabnya dengan mengusap kedua
air mataku dengan kedua tangan manisnya.
“I
always beside you, my love knight” jawabku dengan memandang arah jauh kedepan
serasa aku hanya sendiri tanpa cinta.
Malam
ini tak ingin aku tidur, aku hanya ingin menangis dan ingin berlari jauh
menghapus jejakmu. Tak ingin semua terjadi, mungkin ini adalah mimpi tapi
setiap aku melirik waktu ini adalah kenyataan yang harus kuanggap kebenarannya.
Aku terlelap tidur dengan sentuhan cinta yang akan pergi.
Seminggu
kemudian. Pagi ini aku tak semangat sedikitpun. Jam 5.30 pagi aku buka laptop
untuk membuka semua kenangan masa lalu, masa indah yang tak ingin tergantikan. Dan
aku diajak bertemu dengannya lagi.untuk yang kedua kalinya sejak peristiwa itu.
Aku menunggu cukup lama dengan mendendangkan lagu sedih untuk menemani
kesendirianku.
“Ini
untukmu.” Dia berbicara dengan nada gugup serentak membuyarkan lamunanku.
“Apa
ini?” tanyaku tak mengerti dengan menatap kedua mata elangnya.
“Buka
saja dirumah. Mungkin ini pertemuan terakhir kita sebelum aku pergi. Aku ingin
kamu baik-baik disini, aku selalu mengingatmu. Dan aku selalu sayang padamu.
Peluk aku untuk yang terakhir kalinya sebelum aku untuk orang lain.” jawabnya
dengan memeluk tubuhku dan menangis sebisanya.
“Terima
kasih untuk semuanya. Yang sudah kamu berikan kepadaku. Semoga kamu bahagia
disana. Disini aku menyayangimu. “
jawabku dengan perlahan meninggalkannya.
Sesampai rumah kubuka bingkisan tersebut. Tak
sangka aku mendapat undangan pernikahan. Kubuka perlahan dengan perasaan
hambar.
Hatiku
gundah untuk memilih antara datang atau tidak. Kalau datang tak kuasa
melihatnya bersama orang lain, jika tidak ini adalah pertemuan terakhirku.
Kumantapkan hati untuk datang ke acara pernikahanya. Aku dandan sebiasa
mungkin. Dan aku berangkat dengan hati terasa hambar tanpa pacar.
Aku
pulang dengan perasaan senang bercampur sedih. Sedih karena aku harus hidup
sendiri tanpa cinta dari dirinya. Dia sudah bahagia bersamanya. Bahagia bersama
cinta barunya. Aku turut bahagia atas pernikahanmu.
Seminggu
kemudian Werdha
terbang menuju ke Jepang, dan aku hanya terbaring dirumah karena aku merasakan
sakit yang teramat sangat didada. Dan ternyata dia menitipkan bungkusan indah
berwarna merah tua lengkap dengan bunga mawar diatasnya. Malam itu langsung
kubuka bungkusan itu.
Di
dalam bungkusan tersebut terdapat jam
tangan, bunga mawar, foto, puisi dan secarik kertas. Kubaca secara perlahan
kertas tersebut.
Dear Arima
Saat kau baca
surat ini mungkin aku sudah merasakan
cinta yang baru di kota Sakura. Aku tak merasa bahagia hidup bersamanya. Disini
aku mengingatmu. Kucoba untuk perlahan mencintainya tapi tetap tak bisa. Setiap
saat aku mengingatmu. Mengingat cinta kita yang dulu, aku tak kuasa melihatmu
hidup sendiri tanpa kasih dan sayang dariku. Tapi aku merasakan yang sama, aku
butuh cinta darimu. Tapi aku coba untuk mencintainya dan tulus hidup
bersamanya. Jangan pernah kau lupakan kenangan kita, kirim surat untukku jika
kau merasakan rindu yang tak tergantikan. Aku tetap mencintaimu. Hanya ini yang
bisa kuucapkan :
Sayang sudahlah berakhir semua
Cerita kita yang dulu indah terasa
Jangan kau teteskan air mata
Mungkin inilah jalan untuk kita berdua
Sudah tak perlu engkau sesali
Semua ini tak akan berubah
Kenanglah aku kapanpun engkau mau
Simpan diriku bila masih hatimu
Andaikan api cinta datang kembali
Akan ku sanjung engkau di dalam hatiku
Luka ini memang perih
Tapi kita pernah mencobanya
Biarkan saja cerita ini
Mendewasakan kau dan aku
Your love
Knight
Cerita kita yang dulu indah terasa
Jangan kau teteskan air mata
Mungkin inilah jalan untuk kita berdua
Sudah tak perlu engkau sesali
Semua ini tak akan berubah
Kenanglah aku kapanpun engkau mau
Simpan diriku bila masih hatimu
Andaikan api cinta datang kembali
Akan ku sanjung engkau di dalam hatiku
Luka ini memang perih
Tapi kita pernah mencobanya
Biarkan saja cerita ini
Mendewasakan kau dan aku
Your love
Knight
Perlahan tetesan air mata membahasi pipiku. Dimana aku sangat membutuhkannya, membutuhkan cinta darinya disaat aku terpuruk seperti ini. Akhirnya aku pergi ke pantai Senggigi dimana disana semua kenangan terbungkus indah. Aku ingin mengingat kenangan yang lalu, kenangan bersama cinta dan rindunya dimana aku harus hidup sendiri disini. Tapi aku bahagia keluarga kecilku sangat menyangiku dan selalu mensuport aku diamanapun aku dan kapanpun.
“Ehm
sore yang indah…” gumamku sambil mendekat ke bibir pantai.
Akhirnya
aku duduk disebuah bibir pantai dimana ombak meriuk di kakiku dan kepiting yang
terburu-buru pulang di paraduannya. Kudendangkan lagu dimana lagu itu
mengekspresikan kesedihanku sekarang. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk
membawa rasa sedihku hilang dari hidup ini.
Sejak dia pergi
dari hidupku kumerasa sepi
Dia tinggalkan
kusendiri disini
Tanpa satu yang
pasti
Aku tak tahu
harus bagaimana
Aku merasa tiada
berkawan
Selain dirimu selain
cintamu
Kirim aku
malaikatmu
Biar jadi kawan
hidupku
Dan tunjukkan
jalan yang memang kau pilihkan untukku
Kirim aku
malaikatmu
Karenaku sepi
berada disini
Dan didunia ini
aku tak mau sendiri
Hanya
lagu itu yang bisa mengisyaratkan perasaanku selama ini. Dimana aku berfikir
bahwa Werdha pasti tak bahagia tapi aku hanya bisa berdoa agar Werdha bisa mencintai
Risa melebihi cinta Werdha
kepadaku. Dimana aku harus tetap bertahan dan harus tetap semangat. Senja telah
datang, dan aku ingin cepat-cepat pulang rasanya tak mampu melihat pantai ini,
ada kekuatan sihir yang sekejap saja masuk dihatiku. Dan rasanya aku ingin
kembali ke pelukan orang tuaku.
Sesampai
dirumah, aku dihadapkan dengan keluarga besarku yang menginginkan aku untuk
melanjutkan kuliah di University of Spanyol. Agar aku tidak terus bersedih dan
akhirnya aku menyetujui. Ku tinggalkan kota Lombok dan Pantai Senggigi dimana
semua kenangan terukir indah di lubuk pantai yang amat elok.
Seminggu
kemudian kupersiapkan koper yang besar untuk membungkus semua bajuku, karena
besok aku akan
terbang ke Spanyol dan meninggalkan kota tercintaku.
Kutuliskan
sebait kata di kertas berwarna biru muda, lalu kumasukkan kedalam botol lucu
dan akan kualirkan ke pantai yang berada di kota Spanyol. Aku ingin agar
kenangan bersamanya bermuara di samudra indah agar aku bisa melupakannya.
“Pa,
jaga pantai Senggigi ya? Arima kan lama di Spanyol” kataku dengan menhentikan
kunyahan roti di mulutku.
“Iya
Papa dan Mama akan menjaganya.” Jawab Papaku dengan tersenyum.
“Jika
nanti Arima sudah pergi dan Werdha
kembali, salam sayang untuk Werdha ya Pa?”
gumamku dengan tersenyum.
“Iya
sayang.” balas Papaku dengan mencubit kedua pipiku.
Setiba
di Bandara aku langsung memberi hormat
tersayang untuk keluargaku. “Salam rindu buat Mama dan Papa. Daaaaaa Pa Ma.”
jawabku setengah berlari karena terburu waktu.
Saat
aku mulai merasakan kepergian pesawat, fikiranku melayang jauh dimana rasanya
aku akan meninggalkan hidup ini untuk sementara. Rasanya hari ini begitu pendek
dalam hiduku. Dan akhirnya . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Kring
telepon rumahku berdering.
“Benar
ini rumah Bapak Andre Arif Ar Rafiq”
“Iya
benar, ada apa ya?” jawab Mamaku dengan gugup sambil melirik ke Papaku.
“Anak
anda yang berwarna Arima Ar Rafiq meninggal dalam kecelakaan pesawat Sinaga
jurusan Nusa Tenggara Spanyol. Arima meninggal di pesawat saat pesawat jatuh di
Laut Cina Selatan.” jawab oraang ditelepon itu.
“Mama
hanya bisa berteriak histeris dan jatuh pingsan.”
Sesaat
kemudian.
“Nyonya
di kamar mbak Arima terdapat sebungkus surat.” jawab Ima pembantu dirumahku.
Sesaat
Mama dan Papa langsung membuka surat itu.
Dear my love
parents
Pa, Ma, mungkin
ini terakhir Arima bertemu Mama dan Papa. Arima akan baik saja di alam sana Ma.
Arima membutuhkan ketenangan. Terima kasih atas seluruh perhatian Mama dan Papa
ke Arima. Hanya terima kasih yang dapat Arima ucapkan. Ini batin Rima dimana Rima
merasakan bahwa hidup Rima hanya sebentar. Pa Rima minta maaf
jika Rima mempunyai salah dengan Mama dan Papa. Percaya Ma, Rima baik disini.
Rima akan selalu disamping Mama walau alam kita beda Ma. Rima ucapkan terima
kasih atas semua yang Mama dan Papa brikan. Belum sempat Rima bisa
membahagiakan Papa, Rima sudah dipanggil. Dan Rima yakin Mama pasti akan
mengandung adik Rima 2 bulan lagi. Smpai
jumpa Pa, Ma. Tinggalkan Rima untuk menikmati hidup yang lebih indah. Rima
selalu disamping Mama dan Papa. Salam untuk Werdha Pa, Ma. Rima baik disini
.Dada Papa, Mama dan adik kecilku. Thanks for all to my lovely parents..
With my love
Almh. Arima Ar Rafiq
Di Jepang
disebuah rumah indah, Werdha mendapatkan surat bahwa Arima Ar Rafiq telah
meninggal dunia lima hari yang lalu.
Akhirnya Werdha menelpon Mamaku dan mengucapkan bela sungkawa dan permintaan
maaf bahwa tidak bisa pulng ke Indonesia karena tidak mendapatkan cuti.
Dua
minggu kemudian saat Werdha dan
Risa sedang berlibur ke pantai ternama di kota Hokaido. Saat dia
menginjakkan di pasir putih yang penuh gurauan ombak. Dia menemukan botol lucu
besar dan didalamnya terdapat kertas biru dan beberapa foto. Botol tersebut menyentuh kakinya. Dengan
penasaran akhirnya Werdha dan
Risa membuka botol tersebut.
Senin, 28
February 2011
Werdha ini surat
terakhir untukmu sebelum aku pergi untuk selamanya. Bahagiakan Risa lebih
seperti kau membahagiakanku dengan cinta dan kasihmu. Aku akan bahagia disini
jika kau hidup bahagia bersama Risa. Cintamu akan selalu ku ukir disini tapi
tinggalkanlah cintaku dan perbarui cintamu yang lebih dari cintamu padaku.
Kasih cinta abadimu untuk Risa seorang. Disini aku merindukanmu. Jika kau ke Lombok jangan lupakan kenangan
kita, dimana kita selalu bersama di pantai tersebut. Dimana kau selalu
mengajakku melihat indahnya mentari terbenam. Dimana kita selalu berkata indah
tentang cinta kita. Lupakan cintaku untukmu, tapi tak kan kulupakan cintamu
untukku. Bilang ke pantai tersebut bahwa aku telah bahagia di alam sini.
Cintamu dan bahagiamu untuk Risa bukan untukku. Jangan kau sia-siakan Risa
karena Risa akan membuatmu hidup lebih bermakna lagi. Masukkan lagi foto dan surat ini ke botol itu biar kenangan kita mengalir apa adanya
dan entah dimana berhentinya. Jika kau rindukan aku, ambilah air pantai ini
karena aku akan selalu datang untukmu. Cintaku selalu untukmu Werdha Al Faruq. Lihat bintang di langit
Hokaido itu aku akan bersemayam disamping bintang itu. Thanks to you that you
give me the true love but give the eternal love to your wife.
Arima Ar Rafiq dan seluruh kenangan kita.
Arima Ar Rafiq dan seluruh kenangan kita.
Akhirnya
Werdha dan Risa hidup bahagia dengan cinta dak kasih sayang yang abadi.
2 bulan kemudian. Akhirnya Mama mengandung adik
Arima dan tepat seperti di di surat Arima sebelum meninggal.
Dan
akhirnya Mama dan Papa bahagia dengan adik kecilku.
Created by : Yessie Finandita Pratiwi






0 komentar:
Posting Komentar