Cermati
Sekitarmu Sebelum Mengambil Tindakan
Oleh : Fitri
Weliya
Siang
ini, matahari
rasanya seperti tepat berada di atas kepalaku. Aku dapat merasakan panasnya
sinar matahari dari celah-celah udara di ruang kelasku. Aku menoleh ke arah
jendela kaca dan melihat sinar matahari yang terik menembus kaca. Aku duduk
terdiam di bangku pojok paling belakang sambil mendengarkan guru yang sedang
menjelaskan Teori Hukum Newton I tentang
gaya. Harus ku akui, aku
sangat jenuh dan ingin sekali rasanya masuk ke dalam lemari pendingin sekedar
untuk mendinginkan tubuhku.
Bukan
hanya itu, lapar
dan haus membuatku jadi tidak
berkonsentrasi. Oh
Tuhan, aku sangat berharap Pak
Satmo segera menekan tombol bel istirahat agar aku dapat berlari ke kantin dan
membeli makan siang.
Beberapa
menit kemudian, bel
istirahat berbunyi dengan kencang. Aku langsung menutup semua buku dan menyambar
tasku untuk mengambil alat sholat dan dompet. Aku bersama teman-teman berjalan
menuju musholla terdekat untuk menunaikan ibadah sholat dzuhur. Dinginnya air
yang kubasuhkan ke seluruh muka membuatku merasa segar kembali. Ah, air wudhu ini
benar-benar menyejukkan.
Kantin
Pak Soleh adalah tujuan utama melepas lapar dan dahagaku bersama lima orang
teman dekatku. Aku, Lintang, dan Ayu memesan soto
ayam yang menjadi menu favorit kami disini. Sedangkan Ade, Intan, dan Made memesan batagor
pedas. Saat
kami sedang makan, tiba-tiba
Lintang mengutarakan keinginannya untuk menonton “Ketika Cinta Bertasbih 1”
yang sedang diputar di cinema21. Keinginan Lintang ini langsung disambut
antusias oleh teman-temanku yang juga sangat penasaran dengan film romantis
islami tersebut. Setelah melewati perbincangan yang lumayan panjang dan hampir
saja membuat kami lupa bahwa setelah istirahat ini berakhir, akan ada kelas
matematika yang diisi oleh Ibu Idayati yang dikenal disiplin dan tidak
mentolerir murid yang telat,
kami
pun mendapatkan suatu kesepakatan. Alhasil, kesepakatan kami adalah
kami akan menonton “Ketika Cinta Bertasbih 1” pada hari Sabtu depan jam 16.00
WIB di Cinema21 Hypermart.
Hari
sabtu yang telah kami tunggu,
kini
datang. Aku berangkat ke sekolah dengan perasaan bahagia karena membayangkan
sore ini akan pergi bersama teman-teman. Sebelum berangkat ke sekolah, aku juga telah meminta
izin pada orangtuaku untuk bermain bersama teman-teman. Sekarang, aku berharap jarum jam
bergerak cepat menuju pukul 16.00 WIB. Aku tidak sabar ingin melihat film yang
akan di putar nanti.
Aku
bersama teman-temanku memasuki ruang teater 3. Kami berjalan menuju bangku F
dan segera mencari posisi kami sesuai dengan nomor bangku yang tertera di tiket
masuk. Sebelum film diputar,
aku
menyempatkan diri untuk melihat sekelilingku. Kebanyakan dari penonton adalah
remaja seperti halnya aku dan teman-teman.
Tepat
pukul 16.00 WIB, film
diputar. Kami menonton film dengan tenang dan sesekali tertawa karena ada
bagian-bagian dalam film yang lucu. Aku bersama teman-teman menonton film
hingga selesai. Di luar teater,
kami
pun langsung membuka perbincangan mengenai film yang telah kami lihat tadi.
Berbagai komentar dan tanggapan dari teman-teman mengenai film ini membuat
obrolan kami jadi menarik.
Ditengah-tengah
perbincangan, aku
merasa ingin sekali buang air kecil. Aku yang tidak tahan ingin buang air
kecil, langsung
berlari menuju toilet yang telah disediakan dan tidak memperhatikan sekitar.
Setelah selesai buang air kecil,
aku
segera keluar dari bilik toilet dan mulai merapikan diri di depan wastafel. Aku
terkejut melihat ritsleting rok yang
sekarang ku pakai terbuka. Refleks,
aku
menarik ritsleting itu ke atas dengan
kencang dan tidak memperhatikan sekitar.
Rasanya
ingin sekali aku terbang atau hilang dalam sekejap setelah melihat ternyata
diruangan itu bukan hanya ada aku,
tapi
juga banyak orang. Mereka
melihat dengan jelas perbuatanku tadi dan sesekali membuang muka menahan tawa. Dan yang membuatku
memilih lebih baik jadi semut yang tidak terlihat adalah ketika aku tahu bahwa
pintu toilet itu berhadapan dengan ruang teater 4. Aku tahu,didepan ruang
teater 4 itu banyak pengunjung yang ingin mengantri masuk toilet dan sudah
pasti melihat perbuatanku. Setelah beberapa menit termenung, akhirnya aku kembali
sadar dan segera saja aku berjalan cepat tanpa menoleh. Kali ini, aku
berharap tidak ada yang mengenalku.
Aku
menceritakan kejadian ini kepada teman-temanku. Alhasil, bukannya mendapat
sedikit ketenangan, aku
malah jadi bahan lelucon. Yah,
harusnya
aku simpan sendiri saja yaaa hehehe...






0 komentar:
Posting Komentar